Image: Canva, edited by me

Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah
Penulis: Grace Tioso
Tebal buku: 396 halaman
Tahun terbit: 1 Juni 2023
Penerbit: Nour Publishing
ISBN: 9786232423985
Baca fisik

Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!

*** 


Perkumpulan Anak Luar Nikah menjadi salah satu wishlist-ku tahun ini. Melihat hype-nya di media sosial, membuatku penasaran, fiksi sejarah seperti apa yang dicoba diangkat oleh Grace. Awalnya, aku berniat membacanya via Rakata. Akan tetapi, karena aku mengalami kendala di aplikasi itu, aku memutuskan untuk membeli versi fisiknya saja. To be honest, aku tidak menyesal membeli versi fisiknya karena ceritanya memang sangat-sangat menarik dan berkesan.


The Story


Kisah bermula dari artikel berjudul "Shocking Confession from an Indonesian's Ex-ASEAN Scholarship Recipient" yang mengguncang media sosial dalam semalam. Mulai dari situ, hidup Martha yang awalnya tenang-tenang saja, langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Melalui permainan "25 Question About Me" yang ia unggah di blognya belasan tahun lalu, dunia tahu kalau Martha pernah memalsukan dokumen legal dan menggunakannya untuk mendaftar beasiswa. Iya, beasiswa yang mengantarkan dirinya berkuliah di salah satu kampus terbaik di Singapura.


Memalsukan dokumen legal di negara yang penuh kedisplinan itu tentu saja akan membuat hidup Martha sepenuhnya tidak baik-baik saja. Ia harus berhadapan dengan aparat hukum dan kemungkinannya dia akan dipenjara. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anaknya, keluarganya, dan juga teman-temannya?


The Opinion


Sedari awal aku membaca blurb novel ini dan sejumlah ulasan singkat di Twitter, tersebut-sebut kalau PALN akan mengangkat sisi lain dari China-Indonesian. Berhubung aku tahu memang ada sejumlah dokumen dari teman-teman Tionghoa yang sengaja diberi tanda berbeda, aku sudah mengira arah dari pemalsuan dokumen itu ke sini. Akan tetapi, aku baru betul-betul tahu soal istilah anak luar nikah melalui novel ini. Jadi, ketika aku mengetahui mengapa sampai ada istilah anak luar nikah dan bagaimana awal mulanya, aku speechless. Iya, aku tahu kalau memang ada diskriminasi terhadap teman-teman Tionghoa di negeri ini, tapi ternyata banyak juga yang belum aku pahami.


Novel ini memang memiliki genre fiksi sejarah, tapi bukan berarti kisah Martha ini terjadi di masa lampau. Kisah ini terjadi di masa sekarang. Sayangnya, dampak diskriminasi dan represi yang dialami oleh keluarga Martha maupun suaminya, Ronny, masih terasa sampai sekarang. Oh, ya. Meskipun novel ini memang fokus pada kasus legal Martha, banyak kilas-balik yang diceritakan tak hanya berfokus pada masa lalu Martha. Ada kehidupan Ronny, kedua sahabat Martha, Fanny dan Linda, sepupu Martha, Yuni, hingga wartawan dari The Hongkong Post yang ingin mengangkat kisah Martha, Krisna.


Melalui novel ini, Grace Tioso mencoba untuk mengungkap bahwa diskriminasi dan represi yang dialami oleh teman-teman Tionghoa bahkan bisa dilihat kelindannya sejak tahun 65. Hal ini tidak mengherankan karena setelah aku membaca Metode Jakarta, aku memahami ada semacam pergeseran kebencian kolektif yang dicoba dilanggengkan. Sayangnya, kebencian tersebut malah mengarah ke teman-teman Tionghoa. Selain peristiwa 65, tentu saja kerusuhan tahun 1998 menjadi salah satu titik balik dari sejumlah tokoh dari novel ini, seperti Ronny yang enggan untuk kembali ke Indonesia.


Pun ketika Ronny dan juga Linda dan Fanny mempertanyakan keputusan Martha untuk mengelola salah satu akun anonim Twitter yang membahas politik, aku juga bisa memahami kenapa selalu ada ketakutan di sana. Seorang Chindo bersinggungan dengan politik? Itu akan jadi keputusan yang sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Akan ada banyak pertimbangan di sana.


Conclusion


Rasanya, aku sudah lama sekali aku terakhir merasa tersentuh dengan bacaan yang aku baca. Nah, entah kenapa, di bagian-bagian akhir, aku bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan Martha. Jadi, teman-teman, kalau sempat, bacalah novel ini dan kalian akan sedikit memahami bagaimana struggle teman-teman Tionghoa, yang mungkin belum pernah kita sadari sebelumnya. 


Berhubung kerja-kerjaku juga dekat dengan isu-isu ini to some extent, aku merasa beruntung bisa mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tapi aku yakin, masih banyak yang belum aku ketahui. Jadi, aku akan berupaya untuk mencari tahu lebih banyak lagi.


5 dari 5 bintang untuk fiksi sejarah yang unik ini.

Judul: Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama
Penulis: Keigo Higashino
Penerjemah: Milka Ivana
Tahun terbit: 30 November 2020
Tebal buku: 516 halaman
Penerbut: Gramedia Pustaka Utama

Pembunuhan bisa terjadi di mana saja, termasuk di sebuah kota kecil, terpencil, dan nyaris terlupakan di tengah pandemi Covid-19.

Seorang mantan guru SMP ditemukan tewas tercekik di halaman rumahnya sendiri. Polisi tidak tahu apakah ini pembunuhan terencana, pembunuhan tak disengaja, atau aksi pencurian yang berakhir dengan pembunuhan. Korban adalah guru yang disegani. Setelah pensiun pun, mantan murid-muridnya sering menghubunginya untuk meminta bantuan atau nasihat. Jadi, tentu saja para mantan muridnya, yang pulang ke kota itu demi menghadiri reuni, termasuk dalam daftar orang-orang yang dicurigai.

Polisi kebingungan, dan si pembunuh lega karena identitasnya tidak akan pernah ketahuan.

Namun, ia tidak menyangka bahwa putri korban akan muncul bersama pamannya—seorang mantan pesulap eksentrik—dan ikut menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dan mencari tahu siapa yang membunuh Kamio Eiichi.

***

Sejujurnya, dari tahun lalu aku penasaran dengan buku-buku karangan Keigo Higashino sensei. Berhubung aku tahu kalau salah satu genre beliau adalah mistery, akhirnya aku memutuskan memilih dari sinopsisnya yang menarik hatiku. Akhirnya, pilihanku jatuh ke Black Showman ini. Alasannya sederhana, sih. Aku suka sampulnya! Haha. Terkadang, aku memang sesederhana itu dalam menentukan pilihan buku yang aku baca. 

 Mayo Kamio mendapatkan kabarnya apabila sang ayah, Eichii Kamio, meninggal dunia. Yang membuat dirinya semakin gusar adalah, kenyataan bahwa Eichii meninggal karena diduga dibunuh. Dengan perasaan berantakan, Mayo pun menempuh perjalanan menuju kota asalnya--yang omong-omong tak bernama--dari Tokyo. 

 Eichii merupakan sosok guru SMP yang begitu dihormati. Ia punya kharisma tersendiri sehingga membuat murid-muridnya terkadang masih menghubungi dirinya untuk mendapatkan nasehat, atau bahkan menjadikan Eichii sebagai mediator. Kebetulan, tak lama dari tanggal kejadian, angkatan Mayo sewaktu SMP akan mengadakan reuni. Tak heran apabila sejumlah kawan-kawan Mayo kembali ke kota itu dan membuat mereka tak terlepas dalam daftar terduga tersangka. 

Ketika Mayo hendak menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian, datanglah Takeshi Kamio, Paman Mayo yang sempat tinggal lama di Amerika Serikat dan menekuni karier sebagai pesulap ternama. Sosok pamannya yang eksentrik itulah yang membuat Mayo terdorong untuk ikut mengungkap kebeneran dari kematian Eichii tanpa bantuan dari kepolisian. 

 *** 

Kalau aku boleh jujur, aku memang sudah lama tidak membaca kisah detektif, apalagi yang ditulis oleh penulis Asia. jadi, dari awal aku bertanya-tanya, sosok seperti apakah si "detektif" yang akan memainkan peran dalam cerita ini? Bagaimana cara Takeshi dan Mayo mencari petunjuk untuk mengungkap si penjahat yang sesungguhnya? 

Nah, kalau aku amati, dengan bacaanku yang terbatas, aku rasa Keigo Higashino sensei mencoba menggunakan metode Hercule Poirot di sini. Dalam artian, cara kerja Takeshi dan Poirot memang mirip. Penggunaan sel-sel kelabu sembari menggali informasi dari para saksi menjadi salah satu metode utama yang digunakan oleh Takeshi. Memang, sih, kisah dalam buku ini terasa lambat pace-nya. Akan tetapi, untungnya aku masih bisa menikmatinya. 

Menurutku, Higashino sensei berhasil memunculkan sejumlah twist yang tidak terduga. Baik mengenai alur utamanya, maupun kisah-kisah lainnya yang muncul, seperti kisah Momoka dan suaminya. Ahh, satu hal yang sama sekali terlupa dari memoriku adalah surel yang sempat diterima Mayo dalam perjalanan menuju kota tempat tinggalnya. Ternyata itu menjadi salah satu hal penting dalam hubungannya dengan Kenta. Astaga. Aku betul-betul terlupa soal itu. 

Oh, iya. Sepertinya. buku ini adalah buku berlatar pandemi COVID-19 pertama yang pernah kubaca. Tentu saja, keadaan di Jepang saat pandemi jauh berbeda dari di Indonesia. Jadi, menarik juga bisa tahu bagaimana negara lain menghadapi musibah pandemi yang tak terduga. 

Baiklah. Meskipun aku tahu banyak yang bilang kalau karya-karya Higashino sensei tidak semuanya mencengangkan, aku masih penasaran dengan buku-buku beliau yang lainnya. Jadi, mari kita berburu kapan-kapan.

3.5 dari 5 bintang untuk sosok Takeshi yang selalu misterius.

Sincerely,
P.P. Rahayu


Judul: Monster
Sutradara: Kore-eda Hirokazu
Penulis: Yuji Sakamoto
Genre: Drama, Thriller
Nonton di CGV Depok Mall


A suburban town with a large lake. A single mother who loves her son, a school teacher who cares about her students, and innocent children lead a peaceful life. One day, a fight breaks out at school. It looked like a common fight between children, but their claims differed, and it gradually developed into a big deal involving society and the media. Then one stormy morning, the children suddenly disappear.


***


Akhirnya, kesampaian juga buat nonton Monster. Sebenernya, udah tahu soal film ini dari tahun lalu. Tapi, karena satu dan lain hal, termasuk karena aku sempat sakit cacar, akhirnya baru bisa nonton sekarang. Itupun, kemarin juga impulsif banget nontonnya. Bermula dari perjalanan dari Cibubur ke Depok menggunakan Transjakarta D11--yang omong-omong udah kayak unicorn, saking enggak jelasnya jadwalnya, aku tetiba terpikir waktu sampai Depok, "Kayaknya seru nih, turun di Depok Mall dan nonton." Dengan gerak cepat, akhirnya aku buka TIX.ID, dan untungnya si Monster ini masih ada.


Waktu bilang sama Mbak Indri aku mau nonton, Mbak Indri udah wanti-wanti kalau pace film ini bakal lambat banget. Honestly, aku enggak terlalu cari tahu ini film tentang apa. Yaa biar jadi surprise gitu ceritanya. Jadi, waktu di awal-awal, memang agak bingung alurnya akan ke mana.


The Story


Bermula dari Minato Mugino (Sora Kurokawa) yang sepertinya mengalami masalah di sekolah. Saori Mugino (Sakura Ando), sang ibu, jadi sangat khawatir dengan keadaan Minato. Apalagi, Saori memang membesarkan Minato sendirian pasca mendiang suaminya meninggal dunia. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk memastikan sendiri apa yang sebetulnya terjadi di sekolah. Akan tetapi, ketika ia menghadap  dan ditemui kepala sekolah dan sejumlah guru, Saori menjadi semakin bingung dan kesal karena ia tahu ada yang sedang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah. 


Setelah itu, sudut pandang cerita berganti ke sisi Michitoshi Hori (Eita Nagayama), wali kelas Minato. Nah, dari sinilah baru terungkap sisi lain dari kisah yang terungkap dari sudut pandang Saori sebelumnya. Sudut pandang Hori sensei inilah yang akhirnya membuatku terjaga setelah hampir mengantuk dengan sangat karena awal cerita yang cukup lambat.


Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya multi POV yang disajikan, yakni dari sudut padang Saori, Hiro ssensei, dan Minato sendiri. Ketiga POV ini pada akhirnya saling melengkapi dan memunculkan sejumlah twist yang tidak terduga. Ketika awalnya aku mengira ini adalah soal bully antar siswa saja, ternyata kisah yang diangkat lebih dari itu. Bahkan beyond dari itu. Jadi, aku sangat salut kepada penulis naskah dan sutradara film Monster ini, bisa mengemas cerita yang sedemikian engaging-nya.


Pada dasarnya, melalui multi POV ini, sang sutradara dan penulis naskah ingin menekankan bahwa sosok monster dalam kehidupan kita itu akan berbeda-beda. Bisa jadi bagi Saori, para monster yang mengganggu ketentaraman hidupnya adalah pihak sekolah adalah Hori sensei yang "mencelakai" anaknya. Lalu, bagi Hori sensei, para monster adalah kepala sekolah dan para dewan guru--dan juga Minato. Sedangkan, bagi Minato, siapa sosok monster dalam pandangannya juga pasti berbeda dari ibunya dan Hori sensei.


Maka dari itu, ketika kisah ini mencapai titik akhir, kesimpulannya juga dikembalikan kepada penonton. Apakah Minato dan Hoshikawa berhasil terlahir kembali?


Aku menyadari kalau film ini cukup emosional, tapi aku tak sampai menitikkan air mata karenanya. Aku malah merasa jauh lebih sedih ketika mendengarkan lantunan pinao dari Sakamoto sensei. Iya, film ini merupakan proyek terakhir beliau sebelum meninggal dunia. Aku bisa merasakan kesedihan dan juga emosi yang hendak ia sampaikan lewat gubahan lagunya.


Kesimpulan


Yang pasti, aku puas menonton film ini. Meskipun harus menahan kebosanan karena pace yang sungguh lambat, aku rasa kisah Minato ini sangatlah menarik dan sayang untuk dilewatkan.


Jadi, 4 dari 5 bintang untuk proses acceptance Minato terhadap Hoshikawa.


Best,
P.P. Rahayu

Judul: Pengantin Remaja
Penulis: Ken Terate
Tebal buku: 384 halaman
Tahun terbit: 2022
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki-laki yang ia sayangi. 

“Cinta adalah soal hati, bukan usia.” Bukankah ada lagu yang bilang begitu? 

Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu? Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan. 

Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?

***

Dari dulu, Ken Terate selalu menjadi salah satu penulis favoritku. Ia selalu bisa menyampaikan isu-isu sosial penting tanpa harus begitu menggurui. Bagiku, novel ini mirip sekali dengan novel karya Andina Dwifatma yang berjudul Lebih Senyap dari Bisikan. Mungkin penceritaannya tidak seberat di LSdB, tapi, kisah Pipit-Pongky menjadi suatu ironi yang begitu mengenaskan.

Tentunya, aku menyadari bahwa tidak semua orang punya privilese untuk memahami bahwa pernikahan itu tidak akan mampu menjawab seluruh keruwetan hidup. Menikah dapat menyelesaikan masalah? Mana ada. Yang ada, masalahmu bisa tambah runyam. Apalagi kalau kamu tidak tahu apa tujuanmu menikah dan hanya memiliki pikiran pendek, hidup dengan cinta saja cukup.

Keputusan Pipit untuk menikah muda, bahkan ketika ia belum lulus dari sekolah menengah, tentu saja menghebohkan. Ibuk Pipit tentu saja melarangnya. Sayangnya, Pipit sudah kebanjur keras kepala. Ia hanya mau hidup bersama Pongky. Titik. Nah, enggak tahu aja Pipit kalau menikah tuh bukan cuma urusan dua orang. Ketika menikah, seseorang itu juga akan berurusan dengan keluarga pasangannya. Betapa sialnya Pipit ketika menyadari bahwa keluarga mertuanya sungguh menyebalkan dan membuat dirinya tersiksa.

Belum usai penderitaan Pipit yang harus menerima sikap Pongky yang seenaknya, ancaman kelaparan setiap malam, rasa tak aman karena tak pernah punya uang cukup, dan banyak kesulitan lainnya, Pipit kemudian hamil dan memiliki anak. Duh, cobaan apa lagi, ini?, mungkin demikian batin Pipit.

***

Dari awal, Ken Terate sudah membuat kita benci setengah mati kepada sosok Pongky. Dia ini tuh, sebenar-benarnya cowok <i>red flag</i> nan manipulatif. Kita juga bakalan sebel sama Pipit yang bikin kita gemes banget sama pemikirannya di awal. Tapi <i>again</i>, aku memahami kalau Pipit enggak punya privilese untuk memahami sebesar apa konsekuensi menikah, apalagi di usia masih sangat muda. Sungguh aku berharap waktu itu Ibuk Pipit atau Atin berhasil menyadarkan Pipit. 

Bagiku, karakter yang masih sangat waras di sini adalah Ibuk Pipit dan Atin. Meskipun keduanya juga memang punya kekurangan, tapi kurasa keduanya masih sangat realistis. Mereka mampu mengupayakan hidup mereka sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tentunya, sikap yang berkebalikan dengan Pipit.

Nah, untungnya, sepanjang cerita, sedikit demi sedikit, sikap Pipit berubah. Ia tahu pada akhirnya ia lah yang menanggung konsekuensinya untuk menikah di usia belia. Ia pun mulai bisa mengembangkan diri, meski masih sempat juga tertipu oleh suaminya yang enggak ada bagus-bagusnya itu. Aku sangat menghargai perubahan karakter Pipit di sini. Tentunya, sosok Atin dan Alicia menjadi salah dua kunci bagi Pipit untuk bisa menjadi lebih dewasa.

Menurutku, novel ini memiliki banyak sekali pesan yang ingin disampaikan. Aku berharap, akan lebih banyak lagi orang yang membaca novel ini. Bagaimanapun, pemahaman soal pernikahan memang sepenting itu. Keputusan untuk menikah harus dibarengu dengah pemahaman terkait konsekuensi yang juga akan didapatkan nantinya.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk kisah yang cukup dark ini.

Best,
P.P. Rahayu


Judul: Dona Dona
Seri: Before the Coffee Gets Cold #3
Penulis: 
Toshikazu Kawaguchi
Tebal buku: 264 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita.

Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya.

Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…


***

Suatu hari, Yukari Tokita, manajer kafe Dona Dona yang berada di Hakodate, Hokaido, memutuskan pergi ke Amerika tanpa tahu kapan akan kembali. Kabarnya, Yukari berupaya membuat seorang anak laki-laki yang ingin menemukan ayahnya. Keputusan mendadak Yukari tersebut pada akhirnya membuat Nagare, putra Yukari, rela mengambil alih kafe Dona Dona untuk sementara.

Dengan demikian, Nagare pun terpaksa meninggalkan Funiculi Funicula dan juga terpisah dengan putri semata wayangnya, Miki, yang berada di Tokyo. Kazu dan putrinya, Sachi, juga ikut bersama Nagare ke Hokaido. Di kafe Dona Dona, kita akan banyak bertemu dengan Reiji (pekerja paruh waktu di kafe tersebut), Nanako (teman masa kecil Reiji), dan juga Saki (seorang psikiater yang juga pelanggan reguler di Dona Dona).

Berhubung usia Sachi sudah menginjak tujuh tahun, maka tugas untuk menuangkan kopi yang bisa membawa orang ke masa lalu tetap bisa dilakukan. Nah, ternyata banyak sekali kisah-kisah yang menarik di buku ketiga dari serial ini. Aku rasa, kisah-kisah yang ada semakin solid dan pesan yang disampaikan jauh lebih gamblang daripada dua buku sebelumnya.

Kisah yang paling aku ingat mungkin kisah pertama dan juga terakhir. Kisah pertama menceritakan seorang perempuan muda yang ingin kembali ke masa lalu untuk protes kepada kedua orang tuanya yang meninggal saat ia masih kecil. Ia merasa dirinya telah ditinggalkan sendirian dan dibiarkan menderita sedemikian rupa. Sedangkan, kisah terakhir aku lebih terkesan karena twist yang disajikan di akhir.

Salah satu pesan yang paling aku ingat dari buku ini adalah, bagaimana kehidupan seseorang tidak akan berhenti meski orang yang mereka cintai telah tiada di dunia ini. Bahkan, orang yang masih hidup, harus terus berjuang dan berupaya tetap hidup demi orang yang ia cintai tersebut. Maka dari itu, tulisan Yukari di bagian akhir akan sangat relatable.

"Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan."


Tentu ketika seseorang kehilangan, maka ia berhak berduka dan setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk berdamai dengan kedukaannya. Akan tetapi, bukan berarti hidupnya akan langsung berhenti begitu saja. Setiap orang berhak untuk tetap bahagia setelah merasakan kehilangan.

Selain pesan yang lebih tersurat, aku rasa dalam buku ini, Kawaguchi sensei menuliskan kisah Dona Dona lebih seperti antologi. Maka dari itu, ada sejumlah pengulangan informasi di setiap bab. Lalu, menurutku, gaya bahasa di buku ini juga jauh lebih mengalir dibandingkan dua buku sebelumnya. Sepertinya, sosok Yukari di buku ini menjadi tokoh yang cukup sentral. Sejumlah peristiwa yang terjadi, selalu saja berkelindan dengan hasil campur tangan Yukari.

Jadi, sepertinya di buku keempat nanti, akan lebih banyak dibahas bagaimana awal mula perempuan Keluarga Tokita bisa membawa orang ke masa lalu, dan masa depan. Lalu, mungkin juga akhirnya akan terjawab, apa yang sebetulnya sedang dilakukan Yukari di Amerika sana.


4.5 dari 5 bintang untuk kelakuan Sachi yang menggemaskan.


Salam,
P.P. Rahayu